Serbuan Motor China -versus- Bembie dari Bandung.

Selang pertengahan tahun 2000 y.l. pasar sepeda motor Indonesia dibanjiri produk buatan negeri CHINA. Merk sepeda motor dengan nama-nama khas China, seperti Beijing, Jialing, Jincheng, Wuyang dll. mulai berkibar di kalangan pembeli dan menjadi pilihan alternatif dibanding nama-nama besar dari Jepang, yakni ; Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki, yang telah bertahun-tahun mendominasi pasar Indonesia. Seakan berlomba menyongsong perdagangan bebas di kawasan ASEAN (AFTA 2003) kehadiran produk otomotif dengan harga yang relatif murah tersebut di satu sisi seakan menjadi pilihan yang menguntungkan bagi konsumen. Harga motor buatan China memang rata-rata dijual sampai 50%-60% di bawah produk merk Jepang rakitan Indonesia.

Sekarang ini dari permintaan nasional sekitar 800.000 unit motor untuk tahun 2000, maka produk China diperkirakan telah merebut sampai sekitar 20% pangsa pasar. Namun agaknya tidak cukup banyak kalangan yang menyadari dampak negatif langsung berupa tersedotnya trilyunan rupiah arus devisa Nasional – yang sebenarnya masih belum pulih dari krisis ekonomi sejak 1998 – ke tangan produsen otomotif di negeri China sejalan dengan maraknya pembelian yang terjadi di tanah air. Selintas kekhawatiran atas dampak seperti itu pernah dinyatakan wakil rakyat dalam forum Dengar Pendapat medio November 2000 y.l. antara DPR dengan Menristek/Ka.BPPT.

Lebih dari itu jika tidak disikapi dengan kritis, maka fenomena yang melanda dunia otomotif itu bisa jadi akan menjadi sebentuk bola salju tergilasnya berbagai hajat hidup usaha industri Nasional pada kondisi diberlakukannya perdagangan bebas APEC yang telah diambang pintu. Yang patut disayangkan dalam kondisi bisnis dunia otomotif di Indonesia sekarang adalah terpinggirkannya usahawan lokal yang sebenarnya memiliki potensi dan mampu untuk bertarung memperebutkan pasar otomotif , seperti yang telah ditunjukkan Bembie Motor Industri yang dirintis sejak tahun 1994.

Dengan mengambil nama pendirinya Bambang Arief Bembie yang lama berbisnis otomotif di Bandung, Bembie Motor Industri mulai dikenal sebagai produsen yang khusus membuat motor mini (“kid motor bike”) yang mengadopsi bentuk motor Harley Davidson berukuran kecil dengan penggerak motor genset mini Honda GX-160.

Produk Bembie terus dikembangkan hingga pada tahun 2000 menghasilkan sepeda motor standard /dewasa 110 cc model Puma dan kendaraan otomotif roda tiga untuk keperluan pertanian model Angsa 2000. Sepeda motor produksi Bembie sejauh ini telah terbukti diminati pembeli dari luar negeri – khususnya model mini Harley – diekspor ke negara-negara Australia, Brunei, Malaysia, Kuwait, Belanda, Inggris, Perancis, Swiss, dan Kenya (Afrika).

Di tanah air agen penjualan Bembie tersebar di kota-kota: Jakarta, Surabaya, Malang, Bondowoso, Denpasar-Bali, Medan – Sumatera Utara, Pontianak – Kalimantan Barat, dan Makassar-Sulsel. Data produksi tahun 2000 menunjukkan rata-rata penjualan per bulan mencapai 60 unit, bahkan pernah sampai 100 unit tersendiri. Pimpinan Bembie menyatakan sebenarnya permintaan yang masuk melebihi angka penjualan perbulan. Untuk itu Bembie mampu mencapai kapasitas produksi per bulan maks. 2400 unit, untuk berbagai model produksinya.

Dengan sarana produksi dan modal yang masih amat terbatas dan tenaga kerja berjumlah 60 orang yang didominasi lulusan STM, maka jelas Bembie Motor Industri termasuk kategori industri kecil atau UKM – Usaha Kecil dan Menengah – yang konon sebagai bagian dari soko guru ekonomi kerakyatan.dalam zaman reformasi sekarang mestinya sungguh-sungguh didorong kemajuannya oleh Pemerintah. Apalagi jika mengingat bahwa kandungan lokal produk Bembie telah mencapai 75% .

Rupanya Bembie tidak seberuntung industri Proton-Saga di negara tetangga Malaysia yang secara drastis diproteksi Pemerintahnya dengan upaya penangguhan berlakunya AFTA 2003, khusus yang menyangkut produk industri otomotif. Bembie mengungkapkan keprihatinan akan minimnya peran serta support Pemerintah guna meningkatkan produksi Bembie, dalam hal kemudahan proses kredit modal, bantuan teknis / manjemen untuk promosi, dst. Bahkan ironisnya, upaya terobosan mutakhir Bembie untuk menjadi “pemain pertama” di pasar Nasional yang memproduksi kendaraan angkutan pertanian beroda tiga model Angsa 2000 sampai sekarang masih terganjal karena belum terbitnya surat izin kelayakan dari instansi terkait Departemen Perhubungan. Untuk kasus produksi Angsa 2000 ini sebenarnya pihak

Bembie tahun y.l. telah berhasil mendapat order untuk Kalimantan sejumlah 2000 unit Angsa-2000 yang sesuai rencana pihak pembeli telah bersedia memasok modal produksi dengan imbalan memperoleh perakitan lokal, namun ternyata tidak mungkin dapat dilaksanakan mengingat belum adanya sertifikat layak uji Angsa-2000 tanpa kejelasan sisi teknis apa yang masih belum terpenuhi. Kesulitan seperti itu juga pernah diungkapkan oleh Bembie sendiri sebagai Pembicara dalam ajang Lokakarya bertopik UKM dan HaKI di Bandung 18 November 2000 dihadapan Pembicara dari Komisi II DPR-RI serta Pejabat Ketua Lembaga Konsultasi Hak atas Kekayaan Inteltual (HaKI).

Bembie memang bertekad bulat guna mencoba menyaingi serbuan produk otomotif China, namun apabila hambatan usaha seperti di atas masih tetap terjadi sampai awal tahun 2001 ini, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Bembie akan apa daya untuk sama sekali meninggalkan bisnis otomotif yang lama digelutinya dan terpaksa membiarkan Bembie Motor Industri cukup menjadi sepenggal sejarah dunia industri otomotif Indonesia yang telah berupaya mati-matian eksis di negerinya sendiri. ( 12/01/2001 SI-IPTEKnet wawancara langsung Bembie di Bandung).

Sumber: IPTEKnet / Rizal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: